Judul

kajian Strategis Sosial ( Pemetaan Populasi Kunci AIDS )

Pelaksana

Pusdi Penyakit Infeksi fakultas Kedokteran UNPAD

Abstrak

Kasus HIV/AIDS di Indonesia masih terkonsentrasi pada populasi kunci yang
melakukan perilaku berisiko seperti berganti pasangan dan bertukar jarum suntik.
Kelompok populasi kunci terdiri atas wanita pekerja seks (WPS), waria, lelaki seks
dengan lelaki (LSL), dan pengguna napza suntik (penasun). Kota Bandung melakukan
kajian untuk mengetahui sebaran dan profil dari para populasi kunci agar dapat
menyusun strategi pencegahan dan penanggulangan yang lebih efektif.
Kajian ini menggunakan desain penelitian mix-method dengan dengan menggunakan
tekni pengambilan data: 1) Pemetaan capture-recapture, 2) Kuesioner profil
pengetahuan HIV/AIDS dan perilaku berisiko (n=718 responden), 3) Ekstraksi
database layanan HIV AIDS, 4) Kajian dokumen laporan kegiatan masyarakat,
5) Focus Group Discussion (n=18 informan).
Populasi kunci tersebar di 204 lokasi di Kota Bandung yang mayoritas merupakan
tempat hiburan dan rekreasi. Banyak yang berada di pusat kota dan menunjukkan
adanya mobilitas dari satu lokasi ke lokasi lainnya terutama WPS dan LSL. Banyak
lokasi mereka yang berdekatan dengan layanan kesehatan (puskesmas), namun tidak
semuanya mengakses tempat terdekat. Populasi kunci memiliki preferensi layanan
kesehatan tersendiri dan cenderung mengakses layanan kesehatan yang berlokasi jauh
dari tempat tinggal atau tempat kerja.
Pengetahuan populasi kunci mengenai HIV/AIDS masih belum cukup, terutama
pada kalangan WPS (16,11%). Sementara kelompok Penasun memiliki pengetahuan
yang cukup baik (76,36%). Mayoritas populasi kunci memiliki pasangan tidak tetap
(70,87%) dan pasangan tetap (53,26%). Namun perilaku berisiko seperti berganti
pasangan, pemakaian kondom dan bertukar jarum suntik; secara umum sudah cukup
baik (77,59% memakai kondom dengan pasangan tetap dan tidak tetap, 98,44% tidak
bertukar jarum suntik). Faktor yang mempengaruhi perilaku berisiko ini antara lain:
pengetahuan terhadap HIV, pendidikan. Masih ada sebagian kecil yang merasa tidak
berisiko HIV (7,7%) yang mana berpotensi menularkan. Mayoritas sudah menjalani
tes HIV (89,17%) tetapi hanya sebagian yang memiliki BPJS (18,59%); meski mereka
sudah memiliki KTP (97,64%) dan merupakan warga Kota Bandung (41,61%).
Layanan kesehatan yang paling banyak diakses adalah puskesmas dan klinik.
Kajian ini menghasilkan tiga rekomendasi yang sudah didiskusikan dengan para
pemangku kepentingan yang terdiri atas perwakilan perangkat daerah, LSM dan
komunitas: 1) Intensifikasi kegiatan penanggulangan HIV/AIDS di tingkat
kewilayahan, 2) Integrasi program HIV/AIDS dengan program lain, dan
3) Pemetaan Online dan program penanggulangan di media sosial.
 

Tindak Lanjut

Data Dukung dalam penanganan HIV-AIDS menuju 3 Zero pada Dinas Kesehatan